Home » » Kemitraan ASEAN-RRT Menjamin Stabilitas Keamanan Laut China Selatan

Kemitraan ASEAN-RRT Menjamin Stabilitas Keamanan Laut China Selatan

Written By ANDI on 9 Sep 2016 | 12:29 PM



                                                    
Oleh: Laksda TNI Dr. Surya Wiranto
PORTAL-KOMANDO.COM,.JAKARTA,.(9/9),,.Situasi keamanan regional di kawasan Laut China Selatan akhir-akhir ini menunjukkan eskalasi yg belum stabil. Laut China Selatan hingga saat ini masih menjadi flashpoint keamanan regional. China pasca keputusan Permanent Court of Arbitrase makin menunjukkan ‘ketegasan’ di wilayah sengketa Laut China Selatan, sementara Amerika Serikat tetap menjaga keseimbangan di Asia. 

Kondisi ini menjadi dilema keamanan yang berkepanjangan, dan menimbulkan peningkatan pembangunan kekuatan Angkatan Laut di kawasan Asia. Berbagai Reaksi telah dilakukan oleh negara-negara yg berkepentingan di Laut China Selatan, antara lain berupa penerimaan hasil keputusan PCA oleh Filipina, tapi penolakan oleh China. Berbagai reaksi berupa kebebasan bernavigasi, khususnya Amerika Serikat, ketaatan terhadap aturan hukum internasional atau UNCLOS tahun 1982, dan pemeliharaan perdamaian serta menjaga stabilitas di kawasan sangat mengemuka dan didambakan oleh negara-negara kawasan. 

Ramalan selanjutnya apabila eskalasi ancaman meningkat, dapat dipastikan bahwa China akan menetapkan Adiz (Air Defence Identification Zone). China juga akan melanjutkan reklamasi karang dan dangkalan di Scarborough Shoal. Amerika Serikat dengan sekutunya akan mengimbangi dengan meningkatkan operasi di Laut China Selatan, dan pertarungan kekuatan 2 (dua) Superpower AS-China ini dipastikan semakin meningkat. 

Negara-negara penggugat ASEAN seperti Vietnam, Filipina, Brunei dan Malaysia juga akan bereaksi sesuai kepentingan nasionalnya masing-masing. Dalam situasi seperti ini banyak pihak menanyakan reaksi Indonesia apakah tetap pada posisi netral, mengingat ada wilayah yurisdiksi NKRI berupa Landas Kontinen seluas 33.392,20 km2 dan Zona Ekonomi Eksklusif seluas 83.315,62 km2 yang terkooptasi oleh klaim 9 dashed lines China. Singapore dilain pihak sebagai negara pengguna Laut China Selatan sudah bereaksi terhadap situasi ini, sehingga menimbulkan kemarahan China. Sementara negara-negara ASEAN ingin melanjutkan dialog untuk menyelesaikan kode etik (CoC)

Beberapa pengamat telah membuat skenario masa depan Laut China Selatan, ramalan yang terbaik demi menjaga stabilitas kawasan yang diharapkan bahwa para penggugat setuju untuk mengesampingkan kedaulatan negara, dan mengutamakan pembangunan sumber daya alam bersama. Kemungkinan terburuk akan terjadi ketegangan kekuatan besar yang memaksa ASEAN untuk memilih keberpihakan. 

Sebagaimana diketahui pasca putusan PCA tersebut ASEAN terbagi 3 (tiga), yaitu sebagian menerima putusan PCA (Filipina), sebagian menolak putusan PCA (Myanmar dan Laos), dan sisanya abstain tidak berpihak. Ramalan lainnya menyatakan bahwa Amerika Serikat dan China terus bersaing, sedangkan negara-negara ASEAN menempel pada strategi hedging mereka. 

Menghadapi situasi demikian, pilihan terbaik adalah memecahkan atau mengelola konflik; melakukan negosiasi melalui lokakarya dual-track; dan negara-negara ASEAN bersama China melanjutkan pembicaraan tentang DoC dan penyelesaian CoC. Dalam forum 2nd High Level International Workshop dg tema "Finding Peaceful Solutions for South China Sea Disputes from ASEAN Perspective" yang diselenggarakan oleh Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) di hotel Borobudur pada tanggal 1 September 2016 yang lalu banyak pihak mempertanyakan bagaimana seharusnya reaksi Indonesia untuk menghadapi situasi seperti ini. 

Pertanyaan tersebut langsung terjawab oleh pernyataan Presiden Jokowi saat mengunjungi Vientiane, Laos 7 September 2016 yang lalu, bahwa ASEAN wajib menjaga perdamaian dan stabilitas di 'Rumah Kita'. Presiden saat mengemukakan pandangannya pada pertemuan ‘retreat’ KTT ASEAN ke-29 yang digelar pada Rabu 7 September 2016 di National Convention Centre (NCC), Vientiane, Laos. Menurut Presiden, berbagai mekanisme yang ada di ASEAN saat ini, seperti 'ASEAN Plus Three', 'ASEAN Regional Forum dan East Asia Summit" (EAS) belum sepenuhnya menjamin ketenangan di kawasan. Sejumlah aktivitas di wilayah Asia Tenggara berpotensi meningkatkan ketegangan dan dapat mengakibatkan konflik terbuka. 

Untuk itu kita memerlukan arsitektur keamanan kawasan yang kokoh, yang komprehensif, yang memajukan sentralitas ASEAN dan berkontribusi lebih efektif bagi keamanan dan stabilitas kawasan. Arsitektur kawasan ini nantinya diharapkan dapat mencapai tujuan hakiki yang tercantum pada 'Treaty of Amity and Cooperation' (TAC) dan 'East Asia Summit Bali Principles 2011'. 

ASEAN diharapkan segera menerapkan secara nyata komitmen kerja sama maritim yang telah disepakati pada pertemuan tingkat tinggi East Asia Summit (EAS) tahun 2015. Kerja sama maritim tersebut juga harus dapat mengatasi sumber konflik di laut seperti pencurian ikan, sengketa wilayah, penculikan dan perampokan bersenjata. Beberapa lokasi di laut memerlukan perhatian khusus dan jangan sampai aksi kriminal di laut kita menjadi 'a new normal'. Presiden Jokowi juga menegaskan bahwa kemitraan ASEAN dan RRT harus mampu berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian di Laut Cina Selatan. Kontribusi tersebut dilakukan dengan menghormati Hukum Internasional (termasuk UNCLOS 1982). Semua pihak harus dapat menahan diri, dan harus mengedepankan penyelesaian sengketa secara damai. 

Presiden mendorong agar ‘Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea’ (DoC) harus diimplementasikan secara penuh dan efektif. CoC (Code of Conduct) harus segera diselesaikan karena Kawasan Laut China Selatan tidak boleh menjadi ‘power projection’ kekuatan-kekuatan besar.Untuk itu, Presiden menyambut baik dan mendorong implementasi ‘Code for Unplanned Encounters at Sea’ (CUES) in the South China Sea dan komunikasi hotline antara PejabatTinggi terkait Tanggap Darurat Maritim di Laut China Selatan. 

Konsistensi implementasi CUES dan Hotline akan berkontribusi bagi perdamaian dan stabilitas keamanan di Laut China Selatan. Selain itu, ASEAN dan RRT juga didorong untuk memajukan stabilitas keamanan di jalur utama Maritim di kawasan. Dengan total nilai perdagangan US$ 5 juta per tahun, keamanan maritim merupakan bagian penting dari kesejahteraan masyarakat, tidak saja di kawasan tapi bagi ekonomi dunia. Dengan nilai USD 5 triliun per tahun, tidak bisa tidak, kerja sama keamanan maritim harus ditingkatkan. Oleh karenanya Presiden mendorong agar negara-negara terkait untuk memulai implementasi nyata dari kesepakatan ‘EAS Statement on Enhancing Regional Maritime Cooperation’ yang telah disepakati tahun 2015. 

Kesepakatan tersebut perlu dijadikan prioritas, perlu dilakukan secara serius sehingga rasa saling percaya (Confidence Building Measure) di kawasan akan terus meningkat. ASEAN dan RRT tahun ini merayakan 25 tahun kemitraan erat, sejak bergabungnya RRT sebagai mitra wicara ASEAN pada tahun 1991. Dalam 25 tahun ini RRT telah menjadi mitra dagang terbesar ASEAN, dengan volume perdagangan USD 346,4 milyar dan telah menjadi mitra investasi ke-4 terbesar ASEAN dengan nilai investasi USD 8,2 milyar. Ke depan, ASEAN-RRT perlu terus mengedepankan hubungan ekonomi yang seimbang dan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. Pertumbuhan ekonomi memerlukan, kawasan yang damai, kawasan yang stabil dan kawasan yang aman.
Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2016 - All Rights Reserved
Created by Portal-Komando