PORTAL-KOMANDOCOM,.Ternate
, (04/09), Dalam rangka menyambut HUT TNI Ke-71 pada 05 / 10 esok ,
Korem 152/Babullah menggelar seminar dan dialog yang mengangkat tema
"Meneladani Kepahlawanan Sultan Muhammad Jabir Syah"dengan narasumber
para akademisi dan dewan pakar sejarah yaitu Dr. Syahril Muhammad,
M.Hum, Dr. Irwan Abbas, M.Pd dan Dr. Herman Usman dengan moderator Dr.
Samsu Samadoyo, M.Pd serta diikuti oleh Para Dansat/Kabalak serta
Kasi/Pasi Korem 152/Babullah, Perwakilan FKPPI Malut, para kalangan
akademisi, guru besar, dosen serta praktisi sejarah lokal, LSM dan
Mahasiswa bertempat di Aula Makorem 152/Babullah Jl. A.M. Kamarudin No. 1
Kel. Sangaji Ternate Utara Selasa ( 04/10/2016 )
Seminar tersebut para narasumber yang bergelar Doktor membahas tentang kepahlawanan Sultan Muhammad Jabir Syah dari sudut pandang sejarah, sosial politik dan sosial antropologi mengupas tuntas sepak terjang Sultan Ternate Ke- 47 tersebut dalam peranannya dari Pra hingga pasca kemerdekaan dimana dengan cara pandang beliau yang selalu ber orientasi terhadap persatuan, kebangsaan dan kerakyatan.
Selain itu juga memiliki peranan besar terhadap kemerdekaan Indonesia dimana pada saat Perang Dunia II berkecamuk Sultan Muh Jabir Syah bekerjasama dengan sekutu melakukan kontra propaganda Jepang dengan menyebarkan selebaran-selebaran berbahasa Galela, Tidore dan Ternate yang disebar melalui pesawat-pesawat sekutu perihal perkembangan perjuangan serta ajakan mengusir penjajahan jepang dari bumi Maluku Utara.
Sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan peleburan dari kerajaan dan kesultanan Nusantara, namun pasca kemerdekaan pemerintah yang menerapkan sistem Sentralisasi sehingga peran daerah semakin terkucilkan selain itu juga penempatan Amboina sebagai ibu kota provinsi Maluku semakin mengecilkan posisi Ternate khususnya atau Maluku Utara pada umumnya.
Seminar tersebut para narasumber yang bergelar Doktor membahas tentang kepahlawanan Sultan Muhammad Jabir Syah dari sudut pandang sejarah, sosial politik dan sosial antropologi mengupas tuntas sepak terjang Sultan Ternate Ke- 47 tersebut dalam peranannya dari Pra hingga pasca kemerdekaan dimana dengan cara pandang beliau yang selalu ber orientasi terhadap persatuan, kebangsaan dan kerakyatan.
Selain itu juga memiliki peranan besar terhadap kemerdekaan Indonesia dimana pada saat Perang Dunia II berkecamuk Sultan Muh Jabir Syah bekerjasama dengan sekutu melakukan kontra propaganda Jepang dengan menyebarkan selebaran-selebaran berbahasa Galela, Tidore dan Ternate yang disebar melalui pesawat-pesawat sekutu perihal perkembangan perjuangan serta ajakan mengusir penjajahan jepang dari bumi Maluku Utara.
Sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan peleburan dari kerajaan dan kesultanan Nusantara, namun pasca kemerdekaan pemerintah yang menerapkan sistem Sentralisasi sehingga peran daerah semakin terkucilkan selain itu juga penempatan Amboina sebagai ibu kota provinsi Maluku semakin mengecilkan posisi Ternate khususnya atau Maluku Utara pada umumnya.
Sultan Muh Jabir Syah pada saat pemerintahan
Republik Indonesia Serikat (RIS) pada masa kepemimpinan Presiden Sukarno
pernah menempati jabatan strategis sebagai Menteri Dalam Negeri selain
itu beliaupun selalu menyumbangkan pemikiran-pemikiran brilliantnya bagi
kemajuan bangsa dengan tetap loyal kepada Negara bahkan saat itu
pemikirannya sejalan dengan paham Wakil Presiden Muhammad Hatta. Pada
Tahun 2013 Dewan Pakar Adat dan sejarah Kota Ternate pernah mengusulkan
Sultan Muhammad Jabir Syah sebagai Pahlawan Nasional namun terganjal isu
bahwa Sultan M Jabir Syah merupakan tokoh federal yang mendukung
gagasan Van Mook yang mengusulkan Indonesia menjadi negara Federal.
Disini kita perlu meluruskan sejarah bahwa Sultan M Jabir Syah merupakan Tokoh yang sangat menjunjung tinggi nilai Demokratis dimana menurut beliau bahwa pembentukan Negara Federal bukanlah suatu disintegrasi bangsa tetapi suatu sistem pemerintahan yang tidak berbeda dengan Negara Kesatuan dan lebih kepada bersifat Otonomi seperti halnya yang saat ini diterapkan sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dengan dasar pemikiran bahwa Negara kita merupakan negara kepulauan dan multi kultur sehingga diperlukan adanya kewenangan mengatur daerah seperti halnya konsep otonomi daerah. Selain itu juga Sultan M Jabir Syah dengan tegas menolak tawaran dari pimpinan Republik Maluku Selatan (RMS) maupun Republik Indonesia Timur (RIT) hal tersebut merupakan sikap yang menunjukan integritas dan loyalisme beliau terhadap NKRI.
Oleh karenannya untuk meluruskan hal tersebut kita perlu menerbitkan buku tentang Meneladani Kepahlawanan Sultan Muhammad Jabir Syah selain itu juga perlu adanya pengenalan sejarah lokal kepada para generasi muda mulai dari SD, SMP hingga SMA berbentuk pelajaran Muatan Lokal (Mulok) sehingga para generasi muda kita dapat mengenal sejarah negerinya sendiri. Untuk Korem 152/Babullah sendiri pemberian nama dilakukan oleh sejarahwan Alm. Imam Nachrawy yang baru saja tutup usia pada beberapa bulan lalu, dimana nama Babullah diangkat karena meneladani sifat serta heroisme Sultan Babullah dalam mengusir bangsa Portugis dari Bumi Maluku . @GUSNUR
Disini kita perlu meluruskan sejarah bahwa Sultan M Jabir Syah merupakan Tokoh yang sangat menjunjung tinggi nilai Demokratis dimana menurut beliau bahwa pembentukan Negara Federal bukanlah suatu disintegrasi bangsa tetapi suatu sistem pemerintahan yang tidak berbeda dengan Negara Kesatuan dan lebih kepada bersifat Otonomi seperti halnya yang saat ini diterapkan sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dengan dasar pemikiran bahwa Negara kita merupakan negara kepulauan dan multi kultur sehingga diperlukan adanya kewenangan mengatur daerah seperti halnya konsep otonomi daerah. Selain itu juga Sultan M Jabir Syah dengan tegas menolak tawaran dari pimpinan Republik Maluku Selatan (RMS) maupun Republik Indonesia Timur (RIT) hal tersebut merupakan sikap yang menunjukan integritas dan loyalisme beliau terhadap NKRI.
Oleh karenannya untuk meluruskan hal tersebut kita perlu menerbitkan buku tentang Meneladani Kepahlawanan Sultan Muhammad Jabir Syah selain itu juga perlu adanya pengenalan sejarah lokal kepada para generasi muda mulai dari SD, SMP hingga SMA berbentuk pelajaran Muatan Lokal (Mulok) sehingga para generasi muda kita dapat mengenal sejarah negerinya sendiri. Untuk Korem 152/Babullah sendiri pemberian nama dilakukan oleh sejarahwan Alm. Imam Nachrawy yang baru saja tutup usia pada beberapa bulan lalu, dimana nama Babullah diangkat karena meneladani sifat serta heroisme Sultan Babullah dalam mengusir bangsa Portugis dari Bumi Maluku . @GUSNUR

Posting Komentar