PORTAL-KOMANDO.COM,.JAKARTA
- Wartawan dan kebebasan pers, inilah tema perbincangan mantan Ketua
DPR/MPR yang juga mantan Menteri Penerangan, Harmoko, dengan Panitia
Pusat Hari Pers Nasional 2017, Selasa (24/1), di kantor harian Pos Kota,
Jakarta.
“Di tengah kehidupan pers yang sangat bebas sekarang
ini, setiap wartawan harus selalu kita ingatkan pentingnya punya
tanggung jawab terhadap tigal hal,” kata Harmoko, “yang pertama
bertanggung jawab terhadap diri sendiri, yang kedua terhadap lembaga
penerbitannya, dan yang ketiga—ini yang penting—bertanggung jawab kepada
masyarakat.”
Tanggung jawab kepada diri sendiri, menurut
Harmoko, artinya wartawan harus selalu mematuhi kode etik jurnalistik.
Tanggung jawab kepada lembaga penerbitannya, wartawan harus menjadikan
media tempatnya bekerja sebagai media yang kredibel, independen,
sehingga berita-beritanya selalu dipercaya oleh masyarakat. Tanggung
jawab kepada msyarakat, artinya wartawan harus mampu membangun semangat
persatuan di tengah perbedaan.
“Untuk bisa memegang ketiga
tanggung jawab itu, wartawan harus menguasai wawasan kebangsaan,”
pesannya. Wawasan kebangsaan, katanya, sangat penting untuk menentukan
cara bangsa ini mendayagunakan kondisi geografis, demokrafis, sejarah,
sosio-budaya, ekonomi, politik, dan hankam demi terwujudnya
kesejahteraan masyarakat secara lahir maupun batin.
Dengan
menguasai wawasan kebangsan, masih menurut Harmoko, wartawan bisa
mengenali jati diri bangsanya sendiri, jati diri yang telah dirumuskan
dalam lima butir Pancasila. “Pancasila harus dijadikan pandangan,
pegangan, dan petunjuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ke
sanalah tanggung jawab pers kita muarakan,” pesannya.
Harmoko
mengingatkan adanya Piagam Pasir Putih, hasil Konferensi Kerja PWI di
Pasir Putih, Malang, 13-15 Oktober 1966. Dalam deklarasi itu antara lain
disebutkan bahwa wartawan Indonesia harus memegang teguh kepribadian
Indonesia, berwatak kesatria, berjiwa patriot dalam membela kebenaran
dan keadilan dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Itu penting
di tengah era globalisasi yang memang tidak bisa kita hindari sesuai
dengan tuntutan zaman. Globalisasi jangan membuat kita meninggalkan jati
diri bangsa,” katanya.
Pada pertemuan silaturahmi itu, Ketua
Panitia Pusat HPN 2017, Muhamad Ihsan, didampingi M. Noeh Hatumena
(Sekretaris Dewan Penasihat PWI Pusat) dan Usman Yatim (Direktur Uji
Kompetensi Wartawan PWI Pusat), mengundang Harmoko untuk menghadiri
puncak peringatan HPN 2017 di Ambon, 9 Februari mendatang.
“Gagasan
menetapkan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional kan muncul
sewaktu Pak Harmoko jadi Ketua PWI, jadi kami akan bersenang hati kalau
Pak Harmoko berkenan hadir pada puncak HPN di Ambon,” kata Usman Yatim.
Pada
Kongres ke-16 PWI di Padang, 1978, saat Harmoko menjadi Ketua Umum PWI
Pusat, muncul gagasan perlunya ada Hari Pers Nasional. Baru setelah
Harmoko menjadi Menpen, keluarlah Keppres Nomor 5 Tahun 1985 tentang
Hari Pers Nasional.
Panitia HPN 2017

Posting Komentar