PORTAL-KOMANDO.COM,.(Penkostrad. Senin, 9 Januari
2016). “Bertugas, Berkreasi dan Berkarya” Inilah motto prajurit Kostrad yang
sedang bertugas di perbatasan. Kali ini Satgas Pamtas Yonif
Para Raider 330 Kostrad memanfaatkan
peluang untuk mengembangkan budidaya ternak itik dan telur asin di daerah Boven
Digoel. Peluang ini sangat menjanjikan karena belum banyak orang yang mengusahakannya.
Tingginya permintaan menjadikan pemasaran yang mudah karena banyak yang akan
menampung hasil dari budidaya itik tersebut. Itik dapat dimanfaatkan daging dan
juga telurnya. Hal ini tentunya menjadi peluang usaha yang menguntungkan
sehinggga dapat meningkatkan kesejahteraan dan menyehatkan masyarakat asli
Papua karena nilai ekonomis dan protein yang tinggi dari daging dan telur itik.
Sebuah
Kreasi dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Anggota Satgas Yonif Para
Raider 330 Kostrad, Praka Reza Malani mengembangkan ide dan mempelopori usaha
berternak itik. Hal ini dilakukannya dengan berbekal kemampuan dan ilmu serta
pengalaman yang dimilikinya saat berternak itik di rumahnya.
Selanjutnya
telur itik ini diolah menjadi telur asin oleh Kopka Anis Mansyur. Hasil sangat
berbeda apabila dibandingkan dengan telur asin yang ada di pasaran dikarenakan
rasa dan kualitasnya yang baik. Sebelumnya untuk memperoleh telur asin,
masyarakat setempat harus mendatangkan dari Distrik Muting Kab. Merauke.
Ilmu
budidaya itik dan telur asin ini ditularkan kepada masyarakat dengan cara
pelatihan, penataran singkat dan pendampingan tentang budidaya ternak itik dan
pembuatan telur asin kepada masyarakat Papua di perbatasan yang tergabung dalam
anggota Koperasi Cahaya Santa Marta di Kab. Boven Digoel. Anggota Koperasi ini
seluruhnya adalah orang asli Papua dan kebanyakan adalah mama-mama yang
rata-rata tiap hari bekerja sebagai petani sayur, peternak babi dan penjual
sayur dipasar dengan penghasilan paling tinggi Rp. 50.000,00 sehari.
Penataran
singkat ini dimulai dari pembuatan kandang, pemilihan bibit itik, perawatan,
pemberian makan sampai proses pembuatan telur asin. Penataran sudah dilakukan
sebanyak dua kali yakni pada tanggal 02 dan 07 Desember berupa teori dan
praktek. Masyarakat sangat antusias saat kegiatan berlangsung dengan banyaknya
pertanyaan serta mencoba praktek langsung dalam setiap kegiatan.
Telur
Asin mengandung nilai ekonomis yang sangat tinggi, sebagai contoh dari 24 ekor
itik (2 pejantan dan 22 betina) dalam sehari dapat diperoleh 15 butir telur
dengan harga Rp. 4.000,00 perbutir, namun apabila telah dijadikan telur asin
harganya menjadi Rp. 6.000,00 perbutir. Dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi
ini diharapkan dapat menjadikan peluang usaha dan membuka lapangan pekerjaan
bagi masyarakat serta meningkatkan nilai kehidupan masyarakat Papua menjadi
lebih baik. Selain itu hasil dari usaha telur asin ini dapat juga dijadikan
sebagai konsumsi pribadi untuk memenuhi kebutuhan makanan tambahan bagi
keluarga mama-mama Papua.
Ke
depannya anggota satgas akan terus melakukan pendampingan melekat bagi
masyarakat yang beternak itik serta usaha telur asin di rumah-rumah agar dapat
memperoleh hasil yang maksimal sampai nantinya dapat dilepas dan dapat
mengembangkan usahanya secara mandiri.
Posting Komentar